Penduduk lansia seluruh dunia di tahun 2050 nanti diperkirakan melebihi jumlah populasi anak berusia 15 tahun. Kenyataan ini tentu membuat banyak negara harus berbenah dalam penanganan warga lansia. Di Indonesia sangatlah lazim untuk para warga lansia tinggal dengan anak mereka. Namun karena satu dan lain hal terkadang para lansia ini harus tinggal seorang sendiri, dalam situasi seperti ini tentu harus ada alternatif hunian bagi para warga senior ini.

Rumah Tangga Mandiri. Ada banyak warga lansia yang hidup secara mandiri baik di hunian berbentuk rumah landed atau apartemen. Bagi yang berpasangan tentu tinggal di rumah yang sudah dihuni puluhan tahun sangatlah nyaman. Untuk memutuskan pergi ke rumah yang lebih kecil ataupun ke hunian khusus lansia menjadi hal yang sangat sulit mereka lakukan karena sudah mengusik sisi psikologis mereka. Yang harus diperhatikan ketika tinggal di rumah sendirian adalah kondisi rumah apakah ada split level antar ruangan, apakah lantai licin, pencahayaan memadai, dan seterusnya? Lalu bagaimana dengan kebersihan sehari-hari, adakah yang membantu ?

Co-Housing. Istilah ini memang belum terlalu populer di Indonesia. Co-Housing adalah terminologi yang digunakan untuk mendeskripsikan situasi dimana seorang warga lansia tinggal serumah dengan teman atau relasi yang bukan anak/keluarga sendiri. Teman serumah ini seringkali sesama lansia atau bisa jadi yang lebih muda. Gaya hidup co-housing ini tentu berbeda dengan seseorang yang tinggal dengan caregiver/pendamping karena konsepnya adalah hidup dengan relasi (kesetaraan) bukan relasi antara majikan dan karyawan. Indekos sebenarnya juga mirip dengan co-housing hanya saja penghuninya adalah usia produktif sementara konsep co-housing ini cocok sebagai opsi untuk warga lanjut usia. Umumnya kebutuhan untuk sosialisasi bisa terpenuhi dalam co-housing, karena warga senior hidup bersama berdampingan. Apalagi kalau mereka tinggal bersama dan punya kecocokan minat serta kemampuan yang menunjang sehingga interaksi dan bisa optimal. Disini tetap ada keterlibatan penghuni dalam pengelolaan rumah tangga, bedanya adalah dari sisi tanggung jawab dimana mereka dapat berbagi antara penghuni rumah.

Panti Wredha. Saat ini panti wredha menjadi alternatif hunian bagi warga lansia dimana panti ini dikelola pemerintah dan juga swasta. Tempat ini memang dirancang untuk dihuni oleh warga senior sehingga dari sisi keamanan dan keselamatan sudah dipikirkan. Ada yang bisa menyewa kamar sendiri atau berdua, dimana seluruh biaya bulanan sudah termasuk biaya layanan rumah tangga lainnya. Telah ada jadwal untuk pengecekan kesehatan secara rutin dari tenaga kesehatan dan ada pula kegiatan-kegiatan rutin lainnya. Sebagian dari panti wredha yang ada di Indonesia melayani warga senior yang masih mandiri atau kebutuhan perawatannya minim. Jarang yang melayani dengan kebutuhan pendampingan yang tinggi seperti lansia dengan demensia atau sakit fisik lainnya.

Senior Living. Konsep hunian ini juga relatif baru di Indonesia, sejumlah daerah sudah mulai dilirik oleh developer untuk mengembangkan area semacam ini. Fasilitas hunian komersil yang memiliki opsi hunian berbentuk apartemen atau landed house dan dirancang khusus bagi warga senior. Unit hunian ini ada yang bisa dibeli dan ada yang bisa disewa. Tersedia jasa dukungan caregiver bagi warga senior yang memerlukan pedampingan sehari-hari dan biasanya terpantau 24 jam termasuk untuk panggilan darurat. Setiap fase hidup warga senior ini dilayani dalam satu kawasan hunian dan layanan terpadu. Didaerah Bogor, Bali dan Semarang mulai bermunculan konsep hunian senior living ini tentu dengan biaya yang tidak murah.

Kamu yang tertarik untuk memanfaatkan lahan kosong untuk bisnis hunian warga senior bisa berkonsultasi dengan property consultant Galaxy atau justru mencari hunian untuk orang tua yang ramah lansia di kota-kota besar Indonesia segera hubungi kantor Galaxy terdekat. (AT/2023)

  

Author

Write A Comment